My Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Tes dan Wawancara Kerja’ Category

Career Consulting (1): Sekretaris yang baik hati

Posted by Sista pada Januari 16, 2009

Kawan saya, seorang manajer personalia sebuah perusahaan relatif besar di Semarang, mengeluh karena kesulitan untuk menyiapkan seorang sekretaris untuk Big Bos-nya. Dia mengeluh karena selalu gagal menemukan sekteratis yang cocok. “Bos selalu marah-marah karena sekretaris yang saya sodorkan selalu memble kerjanya. Paling banter enam bulan, bos sudah minta ganti,” kata dia.

Sekretaris macam apa yang diinginkan bos si manajer personalia? “Punya rasa empati tinggi, suka menolong dan pedulian terhadap kesulitan orang lain,” kata si manajer kepada saya. Baca entri selengkapnya »

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Tes Tertulis

Posted by Sista pada November 2, 2008

Pencari kerja sering salah mempersiapkan diri menghadapi tes tertulis. Dia hanya memperhatikan posisi apa yang dia incar dan bukan jenis usaha perusahaan yang dia lamar. Tak mengherankan kalau materi tes yang dia pelajari sama sekali tidak ditanyakan, sementara soal yang tidak pernah dia duga, justru itu yang harus dikerjakan.

Dalam konteks ini, perlu kiranya pencari kerja mengenali jenis perusahaan sekaligus posisi kerja yang dilamar agar mulus melewati tes tertulis. Baca entri selengkapnya »

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Wawancara Kerja: Pengantar

Posted by Sista pada November 2, 2008

Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi karyawan. Bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah wawancara kerja seringkali merupakan metode yang paling diandalkan, mengingat biaya yang dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca: atasan) dapat langsung bertatap muka dengan si pelamar. Bahkan pada jabatan tertentu wawancara kerja bisa dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan diputuskan untuk diterima bekerja.

Sementara bagi para pencari kerja, wawancara kerja mungkin sudah dianggap sebagai “menu sehari-hari” yang harus dilalui sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu hal yang biasa dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak sekali para pelamar yang tidak siap untuk menghadapi wawancara kerja. Tidak jarang mereka merasa langsung gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk wawancara, karena sudah seringkali gagal.

Forum konseling di Internet banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Para penanya tersebut banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter” (petugas rekrutmen & seleksi) relatif sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain tempat mereka melamar pekerjaan. Ada juga penanya yang mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos dari semua metode seleksi yang lain (test tertulis, psiko test, dan test ketrampilan) tetapi tetap gagal ketika wawancara.

Lantas, apa sebenarnya wawancara kerja? Mengapa wawancara kerja ini penting dilakukan dan mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani wawancara kerja tersebut? Lalu kemudian, apa saja yang harus dilakukan oleh para pelamar untuk menyiasati wawancara kerja supaya berhasil?

Tujuan Wawancara Kerja

Wawancara kerja (job interview) saat ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun validitas wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan metode seleksi yang lain seperti psikotes, namun wawancara memiliki berbagai kelebihan yang memudahkan petugas seleksi dalam menggunakannya.

Apapun penilaian pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya memberikan suatu kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah lowongan kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara kerja tersebut merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang memungkinkan pelamar untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan (pemberi kerja), maka “performance” (baca: proses & hasil) wawancara kerja merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah pelamar akan diterima atau ditolak.

Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan, ketrampilan, dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan interpersonal, profesional, dan gaya hidup atau kepribadian pelamar. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi dan interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia diberi kesempatan untuk membuktikannya.

Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah satu cara untuk menemukan kecocokan antara karakteristik pelamar dengan dengan persyaratan jabatan yang harus dimiliki pelamar tersebut untuk memegang jabatan / pekerjaan yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari wawancara kerja adalah:

  • Untuk mengetahui kepribadian pelamar

  • Mencari informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan jabatan

  • Mendapatkan informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan dan perusahaan

  • Membantu perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar yang layak untuk diberikan penawaran kerja.

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Teknik Wawancara Kerja

Posted by Sista pada November 2, 2008

Dua teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan dalam melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja tradisional dan wawancara kerja behavioral. Dalam prakteknya perusahaan seringkali mengkombinasikan kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih akurat.

  • Wawancara kerja tradisional menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti “mengapa Anda ingin bekerja di perusahaan ini”, dan “Apa kelebihan dan kekurangan Anda”. Kesuksesan atau kegagalan dalam wawancara tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan si pelamar dalam berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan, daripada kebenaran atau isi dari jawaban yang diberikan. Selain itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih banyak bersifat mengklarifikasikan apa yang ditulis dalam surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara kerja tradisional, recruiter biasanya ingin menemukan jawaban atas 3 (tiga) pertanyaan: apakah si pelamar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang sesuai dengan harapan recruiter, dan apakah si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya perusahaan.

  • Wawancara kerja behavioral didasarkan pada teori bahwa “performance” (kinerja) di masa lalu merupakan indikator terbaik untuk meramalkan perilaku pelamar di masa mendatang (baca: ketika bekerja). Wawancara kerja dengan teknik ini sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan pada level managerial atau oleh perusahaan yang dalam operasionalnya sangat mengutamakan masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja behavioral dimaksudkan untuk mengetahui respon pelamar terhadap suatu kondisi atau situasi tertentu sehingga pewawancara dapat melihat bagaimana pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan dan menemukan solusinya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan antara lain: “coba Anda ceritakan pengalaman Anda ketika gagal mencapai target yang ditetapkan”, dan “berikan beberapa contoh tentang hal-hal apa yang Anda lakukan ketika Anda dipercaya menangani beberapa proyek sekaligus”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar perlu mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi, tindakan dan hasil yang terjadi pada saat yang lalu. Selain itu, sangat penting bagi pelamar untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara rinci gambaran situasi yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan dalam wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan pelamar dalam menggambarkan situasi yang berhubungan dengan pertanyaan pewawancara secara rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja behavioral, si pelamar harus dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal: (1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi, (3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang dipetik dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari).

Dalam wawancara behavioral ini teknik yang paling sering dipergunakan adalah yang disebut S-T-A-R atau S-A-R atau P-A-R.


Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Jenis Wawancara Kerja

Posted by Sista pada November 2, 2008

Dalam dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja sebagai berikut:

  • Wawancara Seleksi (Screening Interview). Jika pelamar atau kandidat untuk menduduki jabatan berjumlah lebih dari satu orang maka dilakukan wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara kandidat tersebut merupakan kandidat yang paling qualified sehingga bisa dilanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Wawancara seleksi biasanya berlangsung singkat antara 15 – 30 menit.

  • Wawancara Telepon (Telephone Interview). Demi menghemat biaya dan efisiensi waktu, banyak recruiter yang melakukan wawancara kerja melalui telepon. Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi sewaktu-waktu, sebab seringkali recruiter tidak memberikan pilihan bagi pelamar untuk menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai melalui telepon.

  • Wawancara di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview) . Meskipun tidak banyak perusahaan yang melakukan wawancara kerja di kampus, namun untuk perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para lulusan untuk dilatih lebih lanjut, cara ini dinilai sangat efektif karena memberikan akses bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan kandidat terbaik yang mungkin sangat sulit diperoleh jika menunggu para kandidat tersebut datang melamar.

  • Wawancara di Pameran Kerja (Job Fair Interview). Pameran kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan dengan para pencari kerja. Pada pameran kerja biasanya, perusahaan memberikan berbagai informasi mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan CV dari pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak jarang para recruiter langsung melakukan wawancara di stand (booth) mereka. Di Indonesia memang pameran seperti ini masih sangat jarang dilaksanakan jika dibandingkan dengan pameran otomotif, rumah maupun furniture.

  • Wawancara di Lokasi Kerja (On-Site Interview). Ketika seorang kandidat telah lolos dalam tahap wawancara seleksi, seringkali perusahaan mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara langsung lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter biasanya langsung melakukan wawancara secara mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya kurang lebih sama, wawancara kerja di lokasi mungkin bisa terasa menakutkan karena mungkin harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah yang tidak ia kenal.

  • Wawancara Kelompok (Panel or Group Interview). Wawancara kelompok adalah suatu jenis wawancara kerja dimana para pewawancara (recruiter) terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya wawancara jenis ini dilakukan jika perusahaan memandang bahwa pelamar sudah hampir memenuhi syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para penanya dalam wawancara inilah yang memiliki wewenang untuk memutuskan apakah pelamar akan diterima bekerja atau tidak.

  • Wawancara Kasus (Case Interview). Wawancara kerja jenis ini menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah terhadap suatu kasus tertentu. Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang ditawarkan, lalu diberikan sebuah kasus untuk dicarikan solusinya.

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pertanyaan dalam Wawancara Kerja

Posted by Sista pada November 2, 2008

Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara kerja sangat tergantung pada teknik apa yang digunakan oleh si pewawancara. Jika menggunakan teknik wawancara kerja tradisional maka pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:

  • Jelaskan pada saya bagaimana Anda menggambarkan diri anda?

  • Apa kelebihan dan kekurangan anda?

  • Apa saja prestasi yang pernah Anda raih pada pekerjaan yang terdahulu / ketika sekolah?

  • Mengapa Anda berhenti dari perusahaan yang lalu?

  • Apa tugas-tugas Anda pada pekerjaan yang lalu?

  • Darimana Anda mengetahui perusahaan ini?

  • Mengapa Anda tertarik untuk bekerja di perusahaan ini?

  • Jika Anda diterima bekerja untuk jabatan ini, apa yang akan Anda lakukan?

  • Apa itu professionalisme menurut anda?

  • Apa itu teamwork menurut anda?

  • Apa hoby anda?

Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara kerja behavioral, maka pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali ditambahkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Ceritakan pada saya/kami kapan Anda mengalami suatu situasi yang sangat tidak menyenangkan dan bagaimana Anda berhasil keluar dari situasi tersebut.

  • Ceritakan pada saya/kami bagaimana Anda meyakinkan klien Anda ketika Anda melakukan presentasi.

  • Coba Anda ceritakan bagaimana Anda mengatasi situasi dimana Anda harus melakukan banyak tugas dan Anda harus membuat prioritas tugas mana yang harus didahulukan.

  • Bisakah Anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit Anda buat dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?

  • Ceritakan mengapa team Anda gagal mencapai target pada tahun sebelumnya dan bagaimana Anda memotivasi team tersebut sehingga dapat meraih sukses di tahun berikutnya.

  • Bagaimana cara Anda menyelesaikan konflik? Bisa beri contoh?

  • Bisakah Anda ceritakan suatu kejadian dimana Anda mencoba untuk menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?

  • Ceritakan apa yang Anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi menguntungkan bagi perusahaan.

Sebagai suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua belah pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga biasanya diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat baik jika pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:

  • Apa yang diharapkan dari saya jika saya diterima untuk jabatan ini?

  • Menurut pengalaman di sini, apa yang merupakan tantangan terbesar bagi pemegang jabatan ini?

  • Apakah ada pelatihan (internal maupun eksternal) yang dapat membantu saya untuk lebih berperan jika saya diterima bekerja di perusahaan ini?

  • Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian jabatan yang harus saya selesaikan dalam waktu tertentu?

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pertanyaan Pribadi dalam Wawancara Kerja

Posted by Sista pada November 2, 2008

Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju di mana hak individu sangat dijunjung tinggi dan telah memiliki perangkat hukum sangat memadai tentang hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang sehingga para recruiter (pewawancara) sangat berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan, di Indonesia justru sebaliknya. Dalam wawancara kerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah yang bersifat pribadi. Contoh: Menanyakan latarbelakang pelamar (orangtua, saudara, istri, anak, status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal yang dianggap biasa.

Meskipun seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki relevansi dengan jabatan yang dilamar, pelamar harus menyiapkan diri untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat dengan cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin saja tidak bermaksud untuk menyudutkan pelamar, tetapi lebih didasarkan pada kepedulian mereka terhadap kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika pelamar ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan, pelamar harus mampu mengidentifikasi apa makna dibalik pertanyaan tersebut. Untuk merespon pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar dapat melakukan beberapa alternatif:

  • Pelamar bisa mengklarifikasi kepada penanya apa relevansi pertanyaan yang diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga penanya dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya dengan pekerjaan, lalu berikan jawaban yang tepat.

  • Pelamar dapat menjawab langsung secara diplomatis dengan kesadaran penuh bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang dilamar.

  • Pelamar bisa juga menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut jika dirasa sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal ini terpaksa dilakukan, maka harus dilakukan dengan cara-cara halus dan diplomatis sehingga recruiter tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah memberikan pertanyaan yang keliru.

Faktor-Faktor Negatif

Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis, yang harus diwaspadai oleh pelamar adalah faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:

  • Penampilan diri yang terlihat tidak professional (dandanan menor, pakaian yang tidak enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai suasana)

  • Bersikap angkuh, defensive atau agresif

  • Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau tertarik dengan materi pembicaraan yang diajukan pewawancara)

  • Gugup

  • Sangat menekankan pada kompensasi yang akan diterima

  • Selalu berusaha mencari-cari alasan atas setiap kegagalan yang pernah dialami di masa lalu

  • Tidak bisa berdiplomasi dan kurang bisa bersopan santun

  • Menyalahkan perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu, atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat

  • Tidak bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau pembicaraan pewawancara

  • Gagal memberikan pertanyaan kepada pewawancara

  • Berulang kali bertanya: “apa yang dapat diberikan perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ……?”

  • Kurang persiapan: gagal memperoleh informasi penting seputar perusahaan, gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada pewawancara.

Beberapa Saran

Bagi Anda pencari kerja yang dipanggil untuk menjalani wawancara kerja, mungkin ada baiknya Anda memperhatikan beberapa saran dibawah ini.

Lakukan hal-hal berikut:

  • Pastikan Anda sudah tahu tempat wawancara

  • Jika tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal,bersih dan rapi

  • Mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan pewawancara

  • Usahakan untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara)

  • Sapa satpam atau resepsionis yang Anda temui dengan ramah

  • Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan rapi.

  • Ucapkan salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para pewawancara dan jika harus berjabat tangan, jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun tidak lemas)

  • Tetaplah berdiri sampai Anda dipersilakan untuk duduk. Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang

  • Persiapkan surat lamaran dan CV Anda

  • Ingat dengan baik nama pewawancara

  • Lakukan kontak mata dengan pewawancara

  • Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara

  • Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan Anda pada jabatan yang dilamar dan pada perusahaan

  • Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul; kecuali Anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut

  • Tampilkan hal-hal positif yang pernah Anda raih

  • Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi

  • Tunjukkan apa yang bisa Anda perbuat untuk perusahaan bukan apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada Anda

  • Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh pewawancara

  • Ajukan beberapa pertanyaan bermutu di seputar pekerjaan Anda dan bisnis perusahaan secara umum

  • Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar oleh pewawancara

  • Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus Anda lakukan selanjutnya

  • Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada Anda.

Hindari hal-hal berikut:

  • Berasumsi bahwa Anda tahu tempat wawancara, padahal Anda tidak yakin

  • Tidak melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira akan diajukan pewawancara

  • Berpakaian seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat mencolok

  • Datang terlambat

  • Tidak membawa surat lamaran dan CV

  • Menganggap remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara

  • Menjabat tangan pewawancara dengan lemas dan gemetar

  • Merokok, mengunyah permen atau meludah selama wawancara

  • Duduk selonjor atau bersandar

  • Berbicara terlalu keras atau terlalu lembut

  • Membuat lelucon

  • Menjawab sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak” atau “tidak tahu” atau “entahlah”.

  • Terlalu lama berpikir setiap kali menjawab

  • Mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan

  • Menyalahkan mantan atasan, mantan rekan kerja atau perusahaan yang lama

  • Memberikan jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data

  • Menanyakan gaji dan fasilitas yang diterima pada saat wawancara seleksi dimana Anda belum tahu kemungkinan Anda akan diterima atau tidak

  • Memperlihatkan rasa putus asa Anda dengan menunjukkan bahwa Anda mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau melakukan apa saja asal bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut

  • Membahas hal-hal negatif dari Anda yang akan merugikan diri Anda sendiri

  • Mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kontroversial

  • Menelpon atau menerima telepon, atau membaca buku selama wawancara

  • Salah menyebut nama pewawancara

  • Tidak mengajukan pertanyaan pada saat diberikan kesempatan untuk bertanya

  • Lupa mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara

Mengingat bahwa masih banyak calon karyawan yang menghadapi kendala dalam menjalani wawancara kerja, artikel ini diharapkan dapat memberikan sedikit pencerahan bagi mereka sehingga lebih siap dan percaya diri. Saya yakin masih banyak cara-cara yang mungkin belum tertulis dalam artikel ini, namun setidaknya jika Anda melaksanakan saran-saran yang ada di atas maka Anda akan memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi wawancara kerja.

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Tips Menentukan Gaji dalam Interview

Posted by Sista pada Januari 15, 2007

Setelah berhasil melewati beberapa tahapan wawancara kerja, besar kemungkinan Anda akan diterima di perusahaan tersebut. Maka yang harus Anda lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan, “Berapa gaji yang Anda inginkan?”

Negoisasi gaji adalah salah satu bagian tersulit dalam mendapatkan pekerjaan. Jika meminta jumlah yang terlalu besar, perusahaan mungkin akan mengurungkan niatnya merekrut Anda. Sebaliknya, jika jumlah yang Anda minta terlalu rendah, mungkin Anda akan diterima, namun gaji yang didapatkan dibawah standar yang seharusnya dibayarkan perusahaan tersebut.

Setelah bekerja selama beberapa waktu, alu Anda mengetahui fakta tersebut, pastilah Anda akan merasa kecewa. Dan solusinya adalah meminta kenaikan gaji, dan hal ini bukanlah proses yang mudah. Untuk “memenangkan” negosisasi gaji pada saat interview, ikuti petunjuk berikut:

PERATURAN NO. 1: Dapatkan Informasi

Sebelum wawancara, manfaatkan networking Anda. Anda bisa mendapatkan informasi dari teman atau senior Anda yang bekerja di perusahaan tersebut/industri serupa, terutama untuk divisi atau posisi yang sama. Sumber lain adalah internet atau tabloid yang memuat mengenai survey/informasi gaji.

PERATURAN NO. 2: Mendengarkan

Di awal wawancara, jangan pernah langsung menyebutkan berapa gaji yang Anda inginkan. Semakin lama Anda “menunda”, maka semakin banyak informasi yang bisa didapatkan untuk “memenangkan” negoisasi gaji.

Langkah awal, pada saat wawacara, Anda sebaiknya “mencari tahu” dari sang pewawancara, ada berapa banyak kandidat untuk posisi tersebut, dan telah berapa lama lowongan tersebut dibuka. Jika lowongan tersebut telah dibuka dalam waktu yang lama, ada kemungkinan perusahaan kesulitan untuk mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi. Jika Anda high qualified, mungkin Anda bisa mendaptkan nominal yang dinginkan.

PERATURAN KE 3: Berlatih

Anda boleh menyebutkan sejumlah angka pada saat bernegoisasi. Tetapi jangan terlalu tinggi dari standar gaji yang berlaku untuk industri/perusahaan tersebut. Jika ini terjadi, pewawancara malah menganggap Anda tidak serius. Ini berarti Anda kehilangan kesempatan.

Jika Anda menginginkan sejumlah nominal yang tinggi untuk gaji anda, katakanlah sejumlah gaji pada top range, tunjukkah bahwa kualifikasi Anda memang pantas untuk itu. Sebelum hari wawancara, Anda bisa mempersiapkan “pidato” selama 1-2 menit yang mendeskripsikan apa yang Anda bisa berikan untuk perusahaan jika Anda diterima bekerja di tempat tersebut.

Satu hal yang harus dingat, pada saat perusahaan memberikan penawaran, Anda tidak harus memberikan jawaban saat itu juga. Anda bisa minta waktu untuk mempertimbangkan semuanya dalam mengambil keputusan. Jika tawaran perusahaan lebih rendah dari yang Anda harapkan, Anda bisa saja menolak.

Apalagi pada saat bersamaan, ada tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahan lain. Namun, ada hal lain yang patut dipertimbangkan, apakah posisi yang ditawarkan nerupakan langkah strategis untuk perkembangan karir Anda.

BEBERAPA SITUASI DALAM NEGOSISASI GAJI

— . Perusahaan melakukan “secreening phobe call”

Yang harus Anda lakukan adalah bertanya dengan sopan mengenai kisaran gaji untuk posisi tersebut.

Jika si penelpon tidak memberikan informasi untuk hal tersebut, Anda sebaiknya merespon dengan mengatakan, “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan mengenai standar gaji untuk industri ini, mencakup gaji pokok, lembur, training, dan fasilitas yang ada, asuransi kesehatan, biaya perjalanan, jenjang karir, bonus, komisi, dan jenis profit sharing lainnya, gaji yang saya inginkan berkisar Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- (berikan kisaran yang luas). Saya bersedia datang untuk wawancara pada hari X jam Y. Apakah Bapak/ibu bersedia mempertimbangkan?

— . Jika pewawancara mengajukan pertanyaan mengenai gaji pada saat awal wawancara, Anda punya 3 pilihan:

* Berusaha menunda negoisasi dengan mengatakan, “Saya melamar untuk posisi ini karena sangat tertarik akan bidang ini dan perusahaan Anda. Tetapi saya rasa saya baru bisa membahas masalah gaji dengan Anda setelah kita berdua “yakin” bahwa saya memang memenuhi kualifikasi untuk posisi ini.”

* Memberikan respon yang tidak spesifik dengan mengatakan, “Selama saya dibayar sesuai standar perusahaan Anda dan tanggung jawab yang harus saya penuhi untuk posisi ini, saya rasa tidak ada masalah.”

* “Membalikkan” pertanyaan kepada pewawancara. Jika pewawancara melontarkan pertanyaan di awal wawancara , “Jika Anda diterima bekerja di sini, berapa gaji yang Anda inginkan?”. Maka Anda bisa menjawab seperti ini, “Saya sangat tertarik untuk berkerja di sini, menjadi bagian dari perusahaan ini. Tetapi sebelumnya saya ingin mengetahui, untuk kualifikasi kandidat dengan latar pendidikan dan keahlian seperti saya, berapakah standar gaji di perusahaan ini?”.

— Negoisasi gaji di pertengahan wawancara —

* Perusahaan menawarkan gaji dalam kisaran yang sesuai/bisa Anda terima. Pewawancara mengatakan, “Gaji untuk posisi ini berkisar dari Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- Apakah Anda bersedia menerima tawaran ini? Yang harus Anda katakan, “Saya sangat menghargai tawaran ini.

Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini. Jumlah yang Anda sebutkan tadi adalah yang seperti saya harapkan untuk gaji pokok, ditambah dengan beberapa aspek lainnya seperti asuransi, uang lembur, dan fasilitas lainnya.

* Anda hanya tertarik pada top range dari gaji yang di tawarkan. Yang harus Anda katakan, “Terimakasih atas tawaran Anda untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya yakin berbagai keahlian yang saya miliki merupakan benefit bagi perusahaan ini. Berdasarkan apa yang saya ketahui mengenai standar gaji dan penawaran dari perusahaan lain, saya harus mengatakan bahwa saya hanya bisa mengatakan “ya” untuk kisaran atas dari jumlah yang Bapak/Ibu sebutkan tadi.

* Jika Anda sama sekali tidak tertarik dengan gaji yang ditawarkan, yang harus Anda katakan, “Terimakasih atas tawaran Bapak/Ibu untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini.

Namun ada beberapa perusahaan lain yang juga memberikan tawaran kepada saya, untuk posisi yang sama dan gaji yang lebih tinggi. Tentu saja, uang bukan faktor penentu utama, saya juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti training, jenjang karir,dan sebagainya.

* Pewawancara tidak menyebutkan jumlah kisaran gaji. Yang harus Anda katakan, “Dari apa yang saya ketahui, berdasarkan standar industri, gaji pokok untuk posisi ini adalah sebesar Rp xxx. Dan berdasarkan pendidikan dan keahlian yang saya miliki, saya mengharapkan gaji pada middle range, katakanlah Rp yyy. Baagimana menurut Bapak/Ibu?”.

* Jika pewawancara memberikan penawaran di akhir wawancara. Ini berarti pewawancara sangat tertarik untuk merekrut Anda. Yang harus Anda katakan, “Saya siap untuk menerima penawaran terbaik dari perusahaan ini.” Dan jika gaji ditawarkan memang seperti apa yang Anda inginkan, katakan, “Hal terpenting bagi saya adalah kesempatan untuk bergabung di perusahaan ini, dan saya yakin gaji yang ditawarkan sangat kompetitif.”

Petunjuk untuk “FRESH GRADUATES”.

– Perusahaan memilih Anda karena kualifikasi yang dimiliki, bukan gaji yang Anda sebutkan. Perusahaan menerima Anda bekerja adalah untuk meningkatkan profit mereka.

– Dalam wawancara, Anda harus meyakinkan bahwa Anda mampu mengerjakan tugas/tanggung jawab untuk posisi tersebut. Jika tidak, mereka tidak akan memberikan penawaran apapun bagi Anda.

– Jika Anda belum memiliki pengalaman kerja, ingat akan kualitas Anda yaitu pendidikan dan keahlian. Dua hal itulah yang akan membuat Anda sukses di dunia kerja.

– Apa yang membuat perusahaan memutuskan menerima Anda? 95% nya berdasarkan kepribadian, antusiasme, dan keahlian Anda. 5% nya adalah karena keahlian khusus yang Anda miliki.

PERATURAN NO. 4: Jika Penawaran Resmi Telah Dibuat

Jika penawaran resmi telah dibuat, ajukan pertanyaan sebagai berikut:

– Apakah ada kesempatan promosi untuk posisi ini? Untuk posisi atau level apa?

– Kapan dan bagaimanakah penilaian kinerja pegawai untuk posisi ini?

– Apakah penilaian tersebut termasuk untuk review gaji?

– Seperti apakah peningkatan gaji yang ditawarkan untuk 3-5 tahun mendatang?

– PASTIKAN BAHWA PENAWARAN GAJI TELAH MENCAKUP KESELURUHAN DAN DALAM BENTUK TERTULIS.

– PASTIKAN Anda TELAH MENGEVALUASI KESELURUHAN KOMPENSASI YANG DITAWARKAN, BUKAN HANYA GAJI.

Selain gaji, biasanya perusahaan juga memberikan kompensasi dalam bentuk:

*Asuransi kesehatan (dengan atau tanpa mencakup perawatan gigi & mata) .Walaupun perusahaan tidak meng-cover semua /biaya, fasilitas ini akan membuat Anda membayar lebih murah.

* Asuransi jiwa.

* Asuransi kecelakaan, terutama untuk pegawai yang sering bepergian/jenis pekerjaan dengan risiko tinggi.

* Peningkatan gaji untuk 3-5 tahun pertama. Apakah hanya peningkatan pertahun? Atau ada peningkatan gaji/pemberian bonus berdasarkan prestasi kinerja?

* Fasilitas cuti.

* Biaya pensiun (berlaku untuk perusahaan tertentu).

* Profit sharing.

* Stock option. Beberapa perusahaan menerapkan sistem pembagian saham kepada karyawan.

* Training atau pendidikan tertentu.

* Uang lembur & transportasi.

* Fasilitas kredit kendaraan/rumah.

PERATURAN NO. 5: Hal lain yang harus diperhatikan

– Ucapkan terimakasih atas penawaran yang diberikan.

– Jangan langsung bernegoisasi pada saat pewawancara menyebutkan penawaran. Mintalah waktu untuk mempertimbangkan kompensasi secara keseluruhan, bukan hanya gaji.

– Pada saat bernegoisasi, jangan katakan, “Saya meminta …”. Yang terbaik Anda harus mengatakan, “Saya mengharapkan..,”.

– Terkadang gaji yang ditawarkan mungkin lebih rendah dari yang Anda inginkan. Sebelum meng-iya-kan atau menolak, pertimbangkanlah faktor lain seperti reputasi perusahaan, budaya perusahaan, suasana kerja, macam asuransi yang ada, training dan pendidikan, dan sebagainya.

(Dari berbagai sumber)

Posted in Tes dan Wawancara Kerja | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 1 Comment »