My Blog

Just another WordPress.com weblog

Solo Intrigue (7): Sumpah Setia Mas Said

Posted by Sista pada Januari 17, 2009

Akhrinya, RM Said bersumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Sebagai imbalannya, dia mendapat tanah berikut 4000 cacah dari Pakubuwono III dan bergelar menjadi Pangeran Adipati Mangkunegara I, namun tidak mendapatkan apa-apa dari Hamengkubuwono I.

Dengan berdirinya Kasultanan Yogyakarta, VOC tinggal menghadapi perlawanan Raden Mas Said yang masih mempunyai pasukan cukup kuat. Pada Oktober 1755, Mas Said berhasil mengalahkan satu pasukan VOC, bahkan pada Februari 1756 hampir berhasil membakar istana baru di Yogyakarta. Namun perlawanan Raden Mas Said menjadi semakin berat karena dia melawan tiga kekuatan sekaligus yakni Surakarta, Yogyakarta, dan VOC.

Akhirnya pada bulan Februari 1757, Raden Mas Said menyerah kepada Pakubuwono III, dan pada bulan Maret pada perjanjian Salatiga, ia resmi mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta dan VOC. Imbalannya, dia mendapatkan tanah berikut 4000 cacah dari Pakubuwono III dan bergelar menjadi Pangeran Adipati Mangkunegara I (1757-1795), namun tidak mendapatkan apa-apa dari Hamengkubuwono I.

Berakhirnya perlawanan Raden Mas Said, telah membawa kedamaian di Jawa untuk sementara waktu pada kurun waktu 1757-1825 atau sebelum terjadinya Perang Jawa terbesar yang diprakarsai oleh Pangeran Diponegara. Selama masa yang damai itu, masyarakat Jawa mengalami pertumbuhan yang pesat. Jika pada tahun 1755 penduduk di Surakarta dan Yogyakarta hanya sekitar 690.000 jiwa, maka pada 1795 meningkat menjadi 1,4 sampai 1,6 juta jiwa. Sementara jumlah penduduk di daerah pesisir Jawa dan Madura tidak lebih dari sekitar 380.000 sampai 490.000 jiwa pada tahun 1755, dan pada tahun 1795 mengalami peningkatan hingga mencapai 1,5 juta jiwa.

Pada era ini, VOC mengalami kemunduran dan akan gulung tikar yang disebabkan oleh dua hal pokok. Pertama, secara internal VOC telah terjadi penyalahgunaan dan korupsi besar-besaran. Kedua, Belanda kalah perang dengan Perancis, sehingga Kerajaan Belanda diambil alih oleh Napoleon Bonaparte dan membentuk negara boneka di sana sejak 1795. Maka secara resmi pada 1 Januari 1800, VOC dibubarkan dan Pemerintah Belanda mengambilalih kekuasaan di Hindia.

Pemerintah Belanda benar-benar memanfaatkan situasi persaingan antar tiga kekuatan kerajaan di Jawa Tengah yakni Keraton Kasunanan, Keraton Kasultanan dan Kadipaten Mangkunegaran. Sementara ketiga kerajaan itu juga mengambil posisi yang berbeda-beda tehadap Pemerintah Belanda.

Ketiga keraton itu mempunyai sikap politik yang berbeda-beda tergantung kepiawaian raja yang memimpin pada masa itu. Secara umum sikap Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dengan Pemerintah Belanda mengalami pasang naik dan surut. Ada beberapa era di mana raja bersifat akomodatif terhadap Belanda, namun ada beberapa yang lain sangat konfrontatif.

Di jajaran Raja Kasunanan Surakarta terdapat Pakubuwono IV (1788- 1820) yang pada mulanya bersifat akomodatif terhadap Pemerintah Belanda, namun pada akhirnya berkomplot dengan Pasukan Sepoy (1814-1815) mencoba melawan Pemerintah Belanda. Namun Gubernur Jenderal Rafles tidak menurunkan Pakubuwono IV, tetapi hanya membuang seorang pangeran yang terlibat dalam gerakan perlawanan itu.
Sementara itu, Pakubuwono VI (1823-1830) secara tidak langsung mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro, maka beliau dibuang ke Ambon sampai wafatnya pada 1849.

Dampak dari Perang Diponegoro dan rencana perlawanan Pakubuwono VI ini adalah pengurangan wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta hingga hanya sebesar Eks Karesidenan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta menjadi sebesar wilayah DIY sekarang ini. Daerah dua kerajaan itu, Kasunanan dan Kasultanan, sejak tahun 1799 disebut sebagai Vorstenlanden, sementara di luar wilayah itu disebut daerah Gubermen.

Demikian pula yang terjadi pada Kasultanan Yogyakarta yakni pasang naik dan surutnya hubungan dengan Pemerintah Beladan tergantung dengan karakter Sultan yang berkuasa pada masanya. Pada masa Hamengkubuwono II (1792-1826) hubungan Kasultanan Yogyakarta terhadap Pemerintah Belanda memburuk. Beberapa kali Hamengkubuwono II melakukan perlawanan kepada Pemerintah. Puncak perlawanannya terjadi pada Juni 1812, ketika Inggris didukung oleh 1200 prajurit berkebangsaan Eropa dan Sepoy India yang didukung oleh 800 prajurit Legiun Mangkunegaran berhasil merebut istana Yogyakarta.

Kemudian Istana Yogyakarta dirampok. Perpustakaan dan arsipnya dirampas. Sejumlah uang diambil dan Hamengkubuwono II dimakzulkan dan dibuang ke Penang. Penggantinya Hamengkubuwono III sangat akomodatif terhadap kepentingan Pemerintah Balanda.
Pada era inilah muncul perlawanan terbesar dalam sejarah perang di Jawa yaitu Perang Diponegoro (1825-30). Patih Natakusuma yang juga saudara kandung sultan, karena membantu tentara Inggris melawan Hemengkubuwono II, mendapatkan hadiah daerah merdeka dengan 4.000 cacah dan dianugerahi gelar Pakualaman I.

Berdirinya Pakualaman menegaskan bahwa pemerintah kolonial telah berhasil merekayasa pembagian Kerajaan Mataram Islam menjadi dua kerajaan senior yakni Kasunanan dan Kasultanan, dan dua kerajaan junior Mangkunegaran dan Pakualaman.

Kadipaten Mangkunegaran adalah kekuatan ketiga yang paling akomodatif terhadap kekuasaan Belanda. Sikap ini diambil karena pada mulanya posisi Mangkunegaran yang paling lemah dibandingkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta di mata Belanda. Ketika Raden Mas Said diangkat menjadi Mangkunegaran I terdapat ketidakpastian apakah keturunannya akan dapat meneruskan kekuasaanya.
Selain itu, secara politik kekuasaan Mangkunegaran hanya hanya sebagai Adipati, jauh lebih lemah dibandingkan dengan Kasunanan. Di sinilah sikap akomodatif Mangkunegaran dapat dipahami. Bahkan pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Daendels, Mangkunegaran II membentuk ”Legiun Mangkunegara” yakni 1.150 orang prajurit yang terdiri atas pasukan infanteri, kavaleri dan artileri yang dibiayai oleh Pemerintah Belanda. Mangkunegaran II mendapatkan pangkat Kolonel dan diberi 10.000 ryksdaalders lebih setiap tahun sebagai gaji. Legiun ini nantinya akan banyak melaksankan tugas membantu Belanda di antaranya dalam penyerangan Yogykarta (1812), Perang Diponegoro (1825-30) dan Perang Aceh (1873-4).

Keterlibatan Mangkunegaran membantu Pemerintah Belanda dalam perangperang itu, menyebabkan posisi tawar politik Mangkunegaran menjadi semakin tinggi. Ini mengakibatkan Mangkunegaran merasa tidak lebih rendah daripada Kasunanan, kecuali dalam hal gelar. Ini yang membedakan dengan Pakualaman yang tetap dibawah kendali Kasultanan Yogyakarta. Luas wilayah kekuasaan Pakualaman memang sangatlah sempit dibandingkan dengan Kasultanan Yogyakarta yakni terdiri atas satu kecamatan dalam kota Yogyakarta dan empat kecamatan di Wilayah Kulon Progo.

Sementara itu Pakualaman juga tidak mempunyai pasukan prajurti yang kuat. Memang pada mulanya Belanda akan mendesaian Pakualaman sama dengan Mangkunegaraan dengan membentuk pasukan prajurit yang bernama Korps Pakualaman yang terdiri atas 100 prajurit kavaleri yang berkembangn menjadi 50 prajurit kavaleri dan 100 prajurti infanteri. Namun tidak seperti Legiun Mangkunegaran, Korps Pakualaman ini tidak pernah mempunyai arti penting dan akhirnya dibubarkan pada tahun 1892. Praktis Pakualaman tetap di bawah bayang-bayang kekuasaan Kasultanan.

Apalagi ketika Mangkunegaran justru mengembangkan aspek bisnisnya yang dapat memperkuat sumber keuangannya, praktis dari sudut ini Mangkunegaran jauh lebih maju daripada Kasunanan karena Kasunanan Surakarata tidak pernah terjun dalam bidang bisnis.
Secara politik, posisi Kasunanan lebih diakui oleh Pemerintah Belanda sebagai pewaris Kerajaan Mataram paling senior. Namun dari sudut yang lain yakni dalam pengembangan bisnis, Mangkunegara jauh lebih maju. Dengan berkembang bisnisnya, Mangkunegaran mempunyai kontribusi besar bagi perkembangan ekonomi Kota Surakarta dan sekitarnya. Perkebunan Mangkunegara membentang di wilayah seperti Karanganyar, Sokawati (Sragen) dan juga Wonogiri. Sementara dua pabrik Gulanya Tasik Madu dan Colo Madu berada di wilayah Karanganyar. Bisnis Keraton Mangkunegaran ini yang memberikan warna tersendiri dalam evolusi ekonomi Kota Surakarta dan sekitarnya hingga sebelum era kemerdekaan.
(Bersambung)

Sumber: Laporan penelitian Evolusi Ekonomi Kota Solo, PPEP FE UNS

Pernah saya kirim untuk wikimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: