My Blog

Just another WordPress.com weblog

Sampai Kapan Jadi Karyawan?

Posted by Sista pada Januari 17, 2009

Bagi Anda para karyawan atau pegawai (artinya orang yang bekerja untuk perusahaan milik orang lain), janganlah berkecil hati membaca tulisan ini. Toh banyak juga karyawan yang sukses, meski itu hanya dalam pengertian bisa kaya. Sebab, ketika kita berbicara tentang “kebebasan kerja” maka sebagai pegawai atau karyawan adalah relatif terbelenggu.

Kalau demikian, mengapa Anda selalu puas jadi pegawai atau karyawan? Bisakah kita terbebas dari belenggu ini?

Suatu ketika datanglah kepada saya seorang insinyur, tetangga saya, yang hingga sembilan bulan setelah lulus perguruan tinggi mengaku masih menganggur. Dia mengeluh. Konon, sulit bagi dirinya untuk mencari pekerjaan. Hal itu mengherankan, sebab setahu saya dia sering mendapat order untuk memperbaiki ini-itu yang berhubungan dengan barang-barang elektronik. Menservis TV mbengung dia OK. Memperbaiki kulkas rusak, juga OK. Begitu juga dengan barang-barang elektronik lainnya, mulai dari mesin cuci sampai alat pengering rambut, tak ada yang tidak bisa dia tangani.

Bagi saya, dia sudah pantas disebut ahli elektronika. Tidak terlalu sering memang dia menerima order, namun uang yang dia dapat dari penerima jasanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Toh demikian, kemana-mana dia mengaku sebagai penganggur dan selalu gelisah mencari “pekerjaan”.

Barangkali sang insinyur ini tergolong apa yang dalam definisi BPS sebagai “setengah penganggur terpaksa”, yakni orang yang bekerja di bawah 35 jam per pekan yang masih mencari pekerjaan atau yang masih menerima pekerjaan lain.

“Saya ingin jadi pegawai negeri,” kata sang insinyur itu yang membuat saya heran sekaligus terharu. Mengherankan karena dalam penglihatan saya, ketika mengucapkan hal itu mimik mukanya seperti orang yang menatap benda yang membuat air liurnya seakan mau tumpah. Mengharukan karena matanya menyiratkan keinginan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Tetapi sang insinyur tetangga saya itu tidaklah sendirian. Jutaan pemuda sejenis sang insinyur itu ada di mana-mana. Lihatlah pelamar calon pegawai negeri sipil saat ini. Banyak di antara mereka yang sesungguhnya tidaklah benar-benar mencari mata pencaharian. Mereka sekadar mencari “pekerjaan” karena semata-mata agar bisa dipamerkan bahwa dia “mempunyai pekerjaan”.

Umar Kayam, dalam Para Priyayi, bercerita tentang tiga generasi keluarga yang mengaku priayi Jawa tulen meski arti priayi sendiri oleh sang penulis selalu dipertanyakan dan dipersoalkan. Kalau berdasar kamus, priayi adalah orang yang termasuk lapisan masyarakat yang kedudukannya dianggap terhormat, maka dalam Para Priyayi, mereka itu adalah mantri, dokter, guru dan lain-lainnya. Yang jelas pula, mereka bukanlah petani. Priayi ini, oleh Umar Kayam, digambarkan sebagai lapisan masyarakat yang berpendidikan lebih tinggi dari anggota masyarakat umumnya, berbahasa halus, penuh sopan santun, sekaligus bisa berbasa basi untuk memuji lawan bicara. Dalam keseharian, mereka menyempatkan tidur siang sepulang kerja dan memiliki sawah ladang yang diburuhkan.

Pegawai, yang menurut KBBI adalah orang yang bekerja pada pemerintah, perusahaan dsb, memang tidak identik dengan priayi. Tetapi banyaklah di antara kita yang bermental priayi dan mengejar status pegawai, apakah negeri atau swasta, semata-mata demi status itu sendiri. Hanya saja, meskipun telah menggapai status tersebut, perilaku mereka toh sama saja dengan orang kebanyakan. Lihat saja misalnya penggambaran Umar Kayam dalam Para Priyayi. Para priayi itu juga brengsek. Perilaku mereka jauh dari sikap priyayi karena senang selingkuh, suka seks bebas sampai-sampai juga hamil di luar nikah, manja dan sama sekali tidak mandiri, juga ada yang menjadi garong…Nah.

Pilih pekerjaan

Kini cerita berganti. Jika seorang wanita pencari kerja ditawari menjadi penjaga gerai pakaian dalam di sebuah supermarket dan pada saat yang sama ditawari menjadi pelayan toko kelontong yang terletak di tengah kampung dan harus tidur-dalam, saya tidak yakin kalau dia akan memilih tawaran kedua. Bagaimana mungkin dia akan memilih menjadi pelayan toko kelontong yang tiap hari belepotan minyak tanah, coreng-moreng terciprat gandum ketika menakarnya, atau bau terasi karena berdesakan di pasar ketika diminta juragan untuk kulakan. Dia pasti akan memilih menjadi pelayan supermarket yang ber-AC karena bebas keringat, selalu wangi karena rajin menggunakan deodoran, selalu terlihat cantik dengan gincu di bibir dan seksi dengan pakaian you can see-nya.

Sesungguhnyalah pekerjaan sebagai pelayan toko kelontong lebih memberi hasil nyata bagi si wanita itu. Dia lebih bisa menabung karena tak perlu mengeluarkan uang transpor, uang gincu, uang bedak, dan juga uang makan karena dia tidur-dalam. Jika suatu saat terkena PHK, celakalah bagi si pelayan gerai pakaian dalam di supermarket. Dia tidak memiliki keahlian lain kecuali menaksir “orang sebesar ini pasti celananya nomor ini”, dan sejenisnya. Sedangkan bagi pelayan toko kelontong, itulah peluang bagi dirinya untuk memulai membuka warung kelontong kecil-kecilan karena dia tahu di mana mendapatkan barang-barang murah. Dia pun tak ragu memberi utangan karena sudah belajar dari sang majikan bagaimana menghadapi pengutang.

Dimulai dari warung kelontong kecil-kecilan, dalam perjalanan waktu, bekas pelayan toko bisa memiliki toko kelontong besar, memiliki sejumlah pelayan dan tidak mustahil menjadi bos supermarket. Dia tidak lagi menjadi pegawai untuk orang lain, tetapi dia malah “pemilik” pegawai.

Demikianlah ketika status pegawai menjadi tujuan maka selamanya status itu tidak bakal dilepaskan. Ketika status pegawai menjadi kebanggaan, tak pernah terlintas di benak kita untuk mencampakkannya dan menapaki hidup yang lebih dari sekadar menjadi pegawai. Tetapi itulah yang dicari banyak priayi masa kini. Mereka adalah sekelompok manusia yang lebih suka bekerja untuk orang lain dengan membatasi diri untuk cita-cita suatu saat bisa memiliki usaha sendiri dan menjadi buruh untuk diri sendiri.

Saya yakin, jika Anda adalah pegawai atau karyawan, pasti pernah memiliki niat untuk melepaskan status itu dan berganti memiliki sebuah usaha, entah apapun usaha itu. Nah, mengapa Anda matikan cita-cita itu?

Cobalah buka mata dan telinga. Tidak ada kata terlambat untuk banting stir atas kehidupan Anda. Jadi, kapan waktunya anda bisa berhenti jadi pegawai? Saat ini juga.

Banyak peluang usaha menanti Anda tanpa perlu menunggu ,”Kalau saya sudah punya modal seratus juta….”

Ataukah Anda menunggu masa “pensiun” tatkala Anda sendiri bisa memutuskan untuk pensiun dini? Apakah Anda berpikir bahwa pensiun adalah kita dibayar gratis oleh perusahaan atau instansi yang pernah kita “sumbang” tenaga sepenuh hati dan sepenuh jiwa raga kita selama ini? Bukan!

Mereka membayar kita yang sudah tidak lagi menyumbangkan tenaga dan pikiran juga dengan uang kita sendiri. Cuma saja, selama ini masih mereka simpankan dan kelola untuk kita kalau sudah dianggap tidak produktif lagi.

Mana kala itu terjadi, maka Anda benar-benar sudah tidak produktif lagi….

Kinilah saatnya….

—pernah saya tulis untuk wikimu.com—–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: