My Blog

Just another WordPress.com weblog

“Pledoi” untuk Isteriku

Posted by Sista pada Januari 17, 2009

Saya sering merasa geram betapa orang hanya mengangguk-angguk seakan berkata “O…” dengan nada melecehkan setiap saya menjawab pertanyaan mereka:“Isterimu kerja di mana?” Sebab, jawaban saya sudah pasti dan baku, “Di rumah, merawat keluarga.”

Sedemikian banyak manusia Indonesia yang sama sekali tidak menghargai pekerjaan domistik seperti yang dikerjakan isteri saya. Padahal, itulah sebuah pekerjaan yang maha berat yang saya sendiri tidak bisa membayangkan berapa gaji yang dianggap layak untuk membayar pekerja seperti itu

Ya, isteriku adalah kebanggaanku. Pilihannya untuk menjadi sekadar ibu rumah tangga, itulah barangkali sebuah alasan yang sedemikian besar sehingga sampai saat ini saya tetap mencintainya. Kebanggaan dan rasa hormatku kepada isteri, pernah aku tuliskan dalam sebuah surat dan, alhamdulillah ,dipilih sebagai Pemenang I Lomba Menulis “Surat Ayah kepada Anak” Majalah Ayahbunda, yang kemudian dimuat di majalah itu, Edisi 8-21 Januari 1993.

Surat itu, selain sebagai ungkapan rasa hormat dan sayangku kepada isteri, juga merupakan sebuah “pledoi” kepada para isteri yang rela menjadi sekadar ibu. Surat dengan judul O, BETAPA KECILNYA PAPA… tersebut adalah sebagai berikut:

———

Anakku, kekasihku
Ketika Papa menulis surat ini, kau sedang tidur nyenyak dalam dekapan Mama. Tidak mengapa, anakku, karena memang baru itulah salah satu dari sedikit hal yang bisa kau lakukan pada usia sembilan bulanmu. Saat Papa goreskan tulisan ini, kau belum genap mengeja kata, anakku, bahkan untuk sekadar melafalkan kata “Mama”.

Masa-masa dalam dekapan kasih Mama, memang itulah sesuatu yang indah, yang akan selalu kau kenang bila kau besar nanti. Pada saat-saat seperti itu, Mama harus terbangun, bahkan hanya karena sedikit geliat tubuh mungilmu. Dan dalam kelelahan yang belum sirna karena seharian menemanimu, Mama harus terjaga dalam senyum, memberikan air susu, demi besar, sehat, kuat tubuh lemahmu.
Ingatlah selalu anakku, ingatlah akan masa-masa seperti itu. Tidak semua anak seberuntung kau, yang bisa merasakan kenikmatan kasih ibu sepanjang petang hingga fajar, sepanjang pagi hingga sore hari. Tiada detik tanpa kasih sayang, tiada kesunyian mendera jiwa. Ke barat mata menatap, ke timur wajah menghadap, Mama selalu di sampingmu.

Beruntunglah kau, anakku, terlahir dari rahim seorang wanita yang menyerahkan hari-harinya untuk menjadi “sekadar ibu”. Tiada sejawat, tiada kolega. Pun tiada tempat menghibur diri dari sunyinya kerutinan mengurus Papa dan dirimu, menyiram bunga di kebun, atau menunggu datangnya Mbok Ijah, penjaja sayur.

Anakku, sayangku,
Suatu saat Papa mendengar desah kecil dari lubuk hati Mama. “Mama jenuh Pa, kalau menjadi ibu melulu. Haruskah setiap hari hanya seperti ini?” begitu kira-kira yang pernah ingin Mama katakan. Papa pun bertanya-tanya dalam hati, berapa uang imbalan yang harus Papa dan Mama berikan kepada seseorang yang bersedia mencurahkan segalanya untukmu, seperti yang Mama lakukan untukmu? Merawat dengan simbahan kasih sayang, mengasuh penuh keikhlasan. Seratus ribu rupiah? Satu juta? Seratus milyar?

Papa tidak pernah menemukan jawabnya. Tidak juga pada saat menulis surat ini. Tidak akan juga pada waktu-waktu sesudahnya. Begitulah Papa meyakininya. Kasih sayang yang tercurah dari lubuk keikhlasan, tiada pernah bisa terbeli.

Anakku, pujaan hatiku,
Alasan semacam itu belum pernah Papa lisankan untuk berkata “tidak” bagi keinginan Mama untuk menjadi “bukan sekadar ibu”. Tetapi entah mengapa, Mama tidak pernah lagi mengutarakan keinginannya itu. Kerutinan seorang ibu tetap mengisi hari-harinya. Meskipun demikian, tatap mata Mama tetap bening memancar ikhlas. Tutur kata Mama pun tetap lembut bagaikan kapas.

Kalau mengingat semua itu, anakku, kadang satu butir air mata meleleh hangat di dagu Papa. Saat kehangatannya sirna, Papa selalu disentak kemasygulan yang menyesakkan dada. “O, betapa kecilnya Papa di hadapanmu, Ma,” begitu Papa sering mendesis di keheningan malam, ketika kau dan Mama dibuai mimpi-mimpi.

Anakku, manisku,
Kalau Papa menulis seperti ini, bukannya Papa berpikir bahwa menjadi “bukan sekadar ibu” adalah sesuatu yang tidak baik. Bukan, sama sekali bukan, anakku. Papa bukan filsuf yang bijak. Pun bukan penduga-duga penuh buruk sangka. Sesungguhnya, Papa hanya ingin berkata, betapa tiada berartinya andil Papa dibandingkan pengorbanan Mama dalam mengembangkan layar bahtera rumah tangga. Wanita yang sehari-hari akan kau sebut “Mama”, anakku, adalah layar sekaligus angin pendorong laju perahu.

Wanita seperti Mama, anakku, lebih dari sekadar “wanita karir”. Dialah manajer keuangan, kala gaji Papa begitu pas-pasan untuk menutup kebutuhan keluarga. Dialah manajer personalia, ketika memanggil Pak Kar untuk mengganti atap bocor rumah kita. Dialah sekretaris, karyawan, guru, pembantu… dan sebagainya untuk kebahagiaan keluarga.

Anakku, tambatan hatiku,
Untuk saat ini, Papa akhiri dulu surat ini. Nanti kita lanjutkan di puluhan dan mungkin ribuan lembar kertas berikutnya, sampai Papa tidak bisa lagi menulis surat untukmu. Semuanya, anakku, masih akan bercerita tentang orang yang kita cintai karena lebih dari pantas untuk selalu kita cintai: Mama.
Selamat tidur, manisku. Hangatkanlah jiwa dan ragamu dalam dekapan Mama tercinta.

Ya demikianlah. Mengapa saya bisa sedemikian marah dan geram ketika orang hanya mengatakan “O….” seusai bertanya tentang apa pekerjaan isteri saya. Isteri saya, sesungguhnya, lebih dari sekadar isteri dan ibu rumah tangga. Dia adalah segalanya bagi saya.

——-pernah saya kirim juga untuk wikimu.

2 Tanggapan to ““Pledoi” untuk Isteriku”

  1. bune radya said

    pak..saya ingat sebuah buku(Hikmah dari Seberang),yang salah satunya dijadikan quote suami saya untuk menjawab pertanyaan seperti itu.Jawabannya pekerjaan istri saya “Research Associate di bidang pengembangan anak dan hubungan masyarakat”(dst bisa anda baca sendiri di buku itu)
    Salam kenal…salam perjuangan untuk istri🙂

    Jawab:
    Wah di mana saya bisa mendapatkan buku itu ya?
    Terima kasih untuk kunjungannya.
    Salam,
    Duto Solo

  2. guskar said

    Istri itu general manager dalam rumah tangga, segalanya tanpa sentuhan tangannya kacaulah manajemen kerumahtanggaan itu. Saya juga sebel (kata apa yang tepat ya) seperti sampeyan, ketika cuma ditanggapi “O…” yang tadi pak. Saya bisa jadi begini, juga hasil olahan tenaga dan hati ibu saya “yang hanya” seorang ibu rumah tangga. Saya pun berharap istri saya bisa menjadi ibu rumah tangga yang hebat.

    Salam kenal pak..

    Jawab:

    Salam kenal kembali Pak.
    Terima kasih atas opini Bapak.
    Hehehe, ya begitulah ya Pak, banyak yang masih memandang sebelah mata untuk pekerjaan domistik yang juga tak kalah hebatnya dengan pekerjaan di luar rumah.
    Salam,
    Duto Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: